Inisiatif Masyarakat Hulu-Hilir DAS Benanain-NTT
Bagi masyarakat hulu-hilir DAS Benanain, kekeringan dan banjir bukan lagi sekadar ancaman yang datang sesekali. Di wilayah hulu, kekeringan dapat berlangsung berbulan-bulan dan memengaruhi ketersediaan air, pangan, serta pakan ternak. Sementara di wilayah hilir, hujan lebat di wilayah hulu dapat meningkatkan debit sungai dan membawa risiko banjir.
Menghadapi kondisi tersebut, masyarakat mulai membangun cara bersama untuk tidak hanya menunggu bencana terjadi, tetapi mengambil tindakan lebih awal. Dari sinilah tumbuh inisiatif masyarakat hulu-hilir DAS Benanain untuk menghubungkan informasi peringatan dini dengan aksi nyata di tingkat desa.
Inisiatif ini tumbuh di 7 desa, yaitu di wilayah hulu meliputi Desa Huetalan, Sainoni, dan Balu di Kabupaten TTS; Desa Eban dan Lemon di Kabupaten TTU; serta di wilayah hilir Desa Sikun dan Fafoe di Kabupaten Malaka. Inisiatif masyarakat tersebut mendapat dukungan dari YMTM dan Caritas Germany, bersama BPBD Provinsi NTT, BMKG NTT, BPDAS NTT, BWS NT II serta BPBD Kabupaten TTS, TTU, dan Malaka. Dukungan lebih diarahkan sebagai motivasi, fasilitasi, dan stimulan, sementara masyarakat menjadi pelaku utama dalam mengenali risiko, membangun kesepakatan, dan menentukan tindakan yang sesuai dengan kondisi wilayah mereka.
Masyarakat Membangun Kesiapsiagaan dari Desa
Kesadaran untuk menghadapi risiko bencana mulai tumbuh melalui penguatan kelompok dan organisasi masyarakat di tujuh desa tersebut. Saat ini telah terbentuk Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Desa dengan 432 relawan Desa Tangguh Bencana (Destana) yang terorganisir dalam forum desa maupun kelompok tani. Forum dan relawan tersebut telah mendapatkan legalitas melalui Surat Keputusan Kepala Desa. Ketujuh desa juga telah memiliki peta rawan bencana dan rencana penanggulangan bencana yang mulai diintegrasikan ke dalam perencanaan pembangunan desa. Di antara masyarakat hulu dan hilir juga mulai dibangun kesepakatan untuk saling berbagi informasi ketika terdapat tanda-tanda ancaman bencana. Kesepakatan ini menjadi penting karena apa yang terjadi di wilayah hulu dapat berdampak pada masyarakat di hilir DAS Benanain.
Menggabungkan Informasi dengan Pengetahuan Lokal
Dalam menentukan kapan harus mulai bertindak, masyarakat hulu-hilir DAS Benanain memadukan informasi resmi dengan pengetahuan dan pengamatan mereka sendiri. Informasi dari BMKG mengenai prakiraan cuaca dan Hari Tanpa Hujan (HTH), serta informasi dari BBWS Nusa Tenggara II mengenai kondisi sungai, menjadi salah satu dasar untuk melihat perkembangan ancaman. Informasi tersebut kemudian dibandingkan dengan kondisi yang benar-benar terjadi di lapangan.
Di wilayah hulu, misalnya, tanah mulai retak, tanaman mengering, rumput berubah menjadi kuning, debit mata air berkurang, dan masyarakat mulai kesulitan mendapatkan air merupakan tanda yang dikenali masyarakat sebagai perkembangan kekeringan. Ketika informasi dan tanda-tanda tersebut menunjukkan kondisi yang semakin berisiko, masyarakat dapat mulai bertindak, dengan mendata keluarga rentan yang membutuhkan air, menyiapkan tandon atau drum, memperbaiki jaringan air, menjaga sumber mata air, menyediakan air bersih, dan menyiapkan pakan alternatif untuk ternak.
Di wilayah hilir, masyarakat juga menggunakan informasi tentang hujan dan kondisi sungai bersama dengan pengamatan mereka sendiri. Hujan yang berlangsung lama di wilayah hulu, air sungai yang semakin tinggi dan keruh, serta limpasan air yang mulai meluas menjadi tanda untuk meningkatkan kewaspadaan. Komunikasi antar masyarakat hulu-hilir telah dibangun melalui group WhatsApp dengan Pemdes, Forum PRB dan relawan. Informasi dapat dilanjutkan kepada warga melalui media komunikasi tradisional seperti kentongan sehingga dapat menjangkau kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan akses teknologi, meningkatkan pemantauan sungai, serta membantu masyarakat menyelamatkan ternak dan aset penting lainnya sebelum banjir terjadi.
Dengan cara ini, informasi ilmiah dan pengetahuan masyarakat saling melengkapi. Masyarakat tidak hanya menerima peringatan, tetapi ikut memahami apa arti informasi tersebut dan menentukan tindakan yang perlu dilakukan.
Dari Menerima Informasi Menjadi Berani Bertindak
Perjalanan masyarakat hulu-hilir DAS Benanain masih menghadapi berbagai tantangan. Informasi teknis belum selalu mudah dipahami dan perlu diterjemahkan ke dalam bahasa yang sederhana. Kondisi kekeringan juga berbeda antar wilayah dan dapat berlangsung selama 3–6 bulan, sehingga masyarakat masih terus belajar menentukan kapan harus mulai bertindak. Namun, proses tersebut menunjukkan perubahan penting. Masyarakat mulai melihat peringatan dini sebagai dasar untuk bertindak, bukan sekadar informasi.
Dukungan YMTM dan Caritas Germany menjadi bagian dari proses untuk mendorong, memfasilitasi, dan memberikan stimulan, sehingga masyarakat memiliki ruang untuk menemukan dan mengembangkan cara mereka sendiri dalam menghadapi risiko. Pada akhirnya, ketangguhan masyarakat tidak dibangun hanya melalui bantuan, tetapi melalui inisiatif, pengetahuan, kerja sama, dan keberanian masyarakat untuk bertindak lebih awal. Dari peringatan dini menuju aksi dini, masyarakat hulu-hilir DAS Benanain terus membangun kesiapsiagaan bersama untuk melindungi air, pangan, ternak, aset, dan kehidupan mereka dari ancaman kekeringan, banjir, dan dampak perubahan iklim.

