Oleh: Amatus Wona Hewe (YMTM F, Nagekeo, NTT)
Di Desa Rowa, ProKlim Natatiwu menunjukkan bahwa kunci menghadapi krisis iklim ada pada kolaborasi. Tidak hanya mengandalkan kekuatan masyarakat dan pendampingan Yayasan Mitra Tani Mandiri Flores (YMTM F) yang didukung World Neighbors (WN) yang bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK RI). Mereka juga berhasil menggandeng sektor swasta seperti Yayasan Bambu Lestari dan pemerhati lingkungan untuk mendukung konservasi sumber mata air dan pengembangan kebun agroforestry. Sinergi ini membuktikan bahwa ketika swasta hadir bersama masyarakat, perubahan nyata menuju desa tangguh iklim dapat terwujud lebih cepat dan berkelanjutan.

Di kaki Gunung Wolo Ngina, tepatnya di Desa Rowa, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, terdapat sebuah kelompok yang tidak hanya menjaga alamnya, tetapi juga menunjukkan bahwa kolaborasi lintas sektor adalah kunci dalam menghadapi perubahan iklim. Kelompok ProKlim Natatiwu, yang didampingi oleh YMTM F dengan dukungan WN yang bekerjasama dengan KLHK RI, menjadi salah satu contoh nyata keberhasilan program adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat dusun. Tumbuh semangat perubahan yang dipimpin oleh Bapak Sermianus Tai Ota selaku Ketua Kelompok ProKlim Natatiwu. Dalam pendampingan, kelompok ini menjawab tantangan krisis iklim dengan tindakan nyata, semangat gotong royong, dan inovasi lokal.
| Sermianus Tai Ota Ketua Proklim Natatiwu Desa Rowa |
Masyarakat menghadapi berbagai tantangan antara lain degradasi lahan, berkurangnya debit mata air, dan ketergantungan pada pola pertanian konvensional yang rentan terhadap iklim. Namun, mereka tidak menyerah. Bersama YMTM F, mereka mulai menyusun rencana aksi ProKlim yang berfokus pada kegiatan berkelanjutan seperti pembuatan biopori, pertanian organik, penghijauan, pengelolaan air, dan edukasi kebersihan lingkungan.
| Bantuan bibit tanaman bambu oleh Yayasan Bambu Lestari (YBL) di Desa Rowa |
Masyarakat menghadapi berbagai tantangan antara lain degradasi lahan, berkurangnya debit mata air, dan ketergantungan pada pola pertanian konvensional yang rentan terhadap iklim. Namun, mereka tidak menyerah. Bersama YMTM F, mereka mulai menyusun rencana aksi ProKlim yang berfokus pada kegiatan berkelanjutan seperti pembuatan biopori, pertanian organik, penghijauan, pengelolaan air, dan edukasi kebersihan lingkungan.
Bapak Sermianus menyadari bahwa keterbatasan sumber daya merupakan tantangan yang dihadapi dimana tidak bisa diatasi sendiri untuk mencapai dampak yang lebih luas. Kondisi inilah yang mendorong Proklim Natatiwu lebih kreatif mencari peluang untuk bekerja sama dengan berbagai pihak. Oleh karena itu, kerja sama dengan pihak swasta menjadi sebuah kebutuhan strategis dan mereka meyakini bahwa kolaborasi lintas sektor akan memperkuat kapasitas lokal dan mempercepat transformasi menuju desa tangguh iklim.
Mereka percaya bahwa sektor swasta memiliki sumber daya, jaringan, dan inovasi yang bisa melengkapi kekurangan kelompok. Bukan hanya dalam bentuk dana, tapi juga pengetahuan teknis, teknologi, dllnya. Kerjasama ini membuka ruang untuk membangun model kemitraan yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Pengangkutan bibit bambu oleh Pemdes, TNI, tokoh masyarakat dan anggota Proklim ke lokasi SMA
Yang membedakan aksi ProKlim Natatiwu adalah pengurus dan anggotanya melakukan kerjasama dan bermitra dengan sektor swasta. ProKlim Natatiwu berhasil menjalin kerja sama dengan Yayasan Bambu Lestari yang membantu kelompok dalam pengadaan bibit tanaman bambu dan gayam sebanyak 1.000 anakan untuk konservasi mata air. Selain itu, ada juga pihak perorangan / pemerhati lingkungan yang membantu bibit tanaman buah-buahan (jambu, durian, klengkeng, dll) sebanyak 300 anakan untuk ditanam kebun agroforestry. Dalam melakukan konservasi sumber mata air, anggota proklim mendapat dukungan dari Pemerintahan Desa Rowa, TNI (Babinsa), Pastor Paroki dan tokoh masyarakat. Mereka terlibat bersama sama mulai dari membawa bibit ke lokasi sampai penanaman.
Sermianus mengatakan bahwa “Kami sadar, kemampuan kami terbatas. Tapi jika kami bisa bekerja sama dengan pihak lain yang punya kepedulian terhadap lingkungan, maka desa kami bisa lebih cepat maju dan alamnya menjadi hijau. Inilah semangat ProKlim yang sesungguhnya”. Sinergi ini memberikan dampak besar. Kegiatan mitigasi dan adaptasi meningkat drastis, kesadaran masyarakat tumbuh, dan keterlibatan generasi muda pun membanggakan. Hasil nyata mulai terlihat: ketersediaan air meningkat dibuktikan dari hasil pengukuran debit air di SMA Matabheku pada bulan Mei 2025 sebesar 1,62 liter per detik terjadi peningkatan dari sebelumnya (Januari 2024) sebesar 0,08 liter per detik.

Kegiatan ProKlim yang difasilitasi YMTM dan WN tidak hanya berfokus pada pelestarian lingkungan, tetapi juga mendorong pengembangan diversifikasi tanaman pangan lokal (padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, sorgum) melalui pendekatan pertanian ramah lingkungan. Selain Desa Rowa, di 13 desa lainnya, petani mulai memanfaatkan pekarangan dan lahan kosong untuk menanam sayuran, ubi kayu, dan tanaman pangan lokal tanpa menggunakan pupuk kimia dan pestisida kimia. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip adaptasi perubahan iklim karena mampu meningkatkan produktivitas di lahan marginal, menjaga keberlanjutan lingkungan, dan memperkuat kemandirian pangan keluarga. Kegiatan ini juga mendorong peran aktif perempuan dan pemuda dalam pertanian ekologis, serta menjadi bagian dari strategi jangka panjang desa dalam menghadapi ketidakpastian iklim dan ekonomi.
| Pengukuran debit air di SMA Matabheku Desa Rowa |
Lebih lanjut Ketua ProKlim yang masih lajang ini mengatakan, “Kami tidak hanya menanam pohon, tapi juga menanam harapan. Harapan bahwa kolaborasi dengan para pihak bisa membawa perubahan yang besar bagi kami agar lingkungan lestari.”
Perjalanan ini tidak mudah, tetapi berkat kerja keras Ketua yang sudah berkepala lima ini serta pendampingan yang serius dari YMTM F, dan dukungan dari para pihak, ProKlim Natatiwu kini menjadi contoh nyata bahwa kolaborasi adalah kunci sukses ProKlim. Pada tahun ini, mereka pun resmi menjadi salah satu nominasi Proklim Level Utama, bersama 11 ProKlim lainnya dari Kabupaten Nagekeo dalam pencapaian aksi nyata menghadapi krisis iklim.

Kemitraan ProKlim dengan pihak swasta dilakukan oleh 9 Kelompok ProKlim dampingan YMTM F. Salah satu mitra strategis swasta yang mendukung keberhasilan ProKlim adalah Yayasan Bina Lingkungan Lestari (YBLL) yang telah membantu pendropingan bibit tanaman bambu untuk konservasi 8 SMA di 8 desa yaitu mata air Matadhika desa Rowa, Matalabo kelurahan Nagesapadhi, Pu’u Dika desa Wolowea Timur, Zaba desa Raja,Tiwu Jawa desa Natatoto, Napunodo desa Ngegedhawe, obhe desa Pagomogo dan Dekoloabo desa Kotakeo I dengan total luas areal konservasi sekitar 6 hektar. Jumlah tanaman bambu yang ditanam di areal konservasi itu dukungan dari YBLL sebanyak 12.370 anakan, kalau diestimasi dalam rupiah sebesar 12.370 x 5.000 = Rp 34.350.000.
| Juruslan Dj. R. Ndima Koordinator Kabupaten YBLL Nagekeo |

“Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL), terus membangun komunikasi dengan berbagai pihak — petani, pegiat lingkungan, LSM seperti Yayasan Mitra Tani Mandiri (YMTM), organisasi kemasyarakatan dan pemerintah. Kami sepenuhnya menyadari bahwa pekerjaan merawat lingkungan tidak bisa dilakukan sendirian. Gotong royong adalah modal sosial yang paling kuat yang kita miliki. Kelompok ProKlim adalah bagian dari komunitas yang menunjukkan kepedulian tinggi terhadap perubahan iklim, khususnya di wilayah dampingan YMTM. Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada YMTM yang telah lebih dahulu memulai kerja-kerja nyata untuk perlindungan lingkungan, termasuk penanaman bambu di wilayah-wilayah dampingan mereka. Kontribusi mereka sangat berarti, tidak hanya bagi kelompok dampingan, tetapi juga bagi kami sebagai mitra kerja. Kolaborasi, saling menguatkan, dan semangat gotong royong adalah kunci utama menuju perubahan yang berkelanjutan”, kata Juruslan Dj. R. Ndima (Koordinator YBLL di Kabupaten Nagekeo)
| Tanaman bambu di areal tangkapan air hujan Embung Proklim Dekolabo Desa Kotakeo I |
Kolaborasi ini juga menciptakan kesadaran baru, bahwa perubahan iklim adalah tanggung jawab bersama, dan sektor swasta dapat menjadi mitra yang mendukung, bukan sekadar penonton. ProKlim tidak hanya menjadi pelaku perubahan di desa, tetapi juga contoh kemitraan lokal yang berhasil membangun ketahanan iklim berbasis masyarakat.
Akhirnya bapak yang energik ini mengatakan terimakasih kepada YMTM F, WN, KLHK-RI dan para pihak yang telah mendampingi kami karena keberhasilan ini bukanlah akhir, tetapi awal dari tanggung jawab yang lebih besar: “Kami ingin pihak lain tahu bahwa perubahan dimulai dari kolaborasi, bukan dari keluhan. Proklim bukan hanya program, tapi gaya hidup”.
Yayasan Mitra Tani Mandiri — mewujudkan kemandirian, kesejahteraan dan keadilan masyarakat pedesaan NTT secara berkelanjutan.
IKUTI KAMI :
| Vis. Today | 4 |
| Visits | 1.582 |
| Pag. Today | 9 |
© 2026 Yayasan Mitra Tani Mandiri. Hak cipta dilindungi.