Pengalaman Yayasan Mitra Tani Mandiri (YMTM)
Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, merupakan wilayah yang menghadapi ancaman kekeringan secara berulang. Curah hujan yang relatif rendah, musim kering yang panjang, serta keterbatasan ketersediaan air tanah membuat masyarakat harus beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang semakin menantang. Kekeringan tidak hanya berdampak pada ketersediaan air bersih, tetapi juga pada pertanian, peternakan, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi keluarga. Di beberapa desa seperti Tuntun, Fafinesu C, Oeolo, Humusu Sainiup, Femnasi, dan Makun, masyarakat mengalami kesulitan memperoleh air, sementara lahan pertanian dan sumber pakan ternak ikut terdampak.
Bagi masyarakat Timor, persoalan kekeringan juga berkaitan erat dengan hubungan sosial, budaya, dan kearifan lokal. Di Desa Femnasi, misalnya, masyarakat menjaga sumber mata air melalui sistem ”mamar” dan aturan adat. Sementara di Desa Tuntun, Fafinesu C dan Oeolo masyarakat masih mengenali tanda-tanda alam sebagai petunjuk datangnya musim kemarau panjang. Pengetahuan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun sistem peringatan dini berbasis masyarakat.
Untuk mengurangi dampak kekeringan, pendekatan Aksi Merespon Peringatan Dini (AMPD) dikembangkan dengan tiga pilar utama, yaitu peringatan dini, aksi dini, dan mekanisme pendanaan. Pendekatan ini mengubah pola penanganan bencana dari menunggu dampak terjadi menjadi melakukan tindakan sebelum krisis mencapai kondisi yang lebih parah. Informasi dari BMKG dan BPBD dipadukan dengan pengamatan masyarakat terhadap kondisi mata air, tanaman, dan tanda-tanda alam. Informasi kemudian disebarluaskan melalui grup WhatsApp maupun secara langsung melalui pertemuan di tingkat Dusun, RT maupun kelompok tani, sehingga dapat menjangkau kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan akses teknologi.
Salah satu indikator aksi dini yang digunakan adalah 20-60 hari tanpa hujan. Ketika ambang batas tersebut tercapai, masyarakat dan pemangku kepentingan dapat segera melakukan tindakan untuk mengurangi risiko. Aksi tersebut antara lain berupa penyediaan air bersih bagi keluarga rentan, penyediaan tempat penampungan air, konservasi sumber mata air, serta pengembangan pertanian yang lebih tahan terhadap kekeringan.
Di bidang lingkungan, masyarakat bersama pemerintah desa melakukan konservasi pada 24 titik mata air melalui pembuatan sumur resapan, jebakan air, terasering, penghijauan, dan perlindungan kawasan tangkapan air. Upaya tersebut bertujuan meningkatkan infiltrasi air, mengurangi limpasan permukaan, dan menjaga ketersediaan air pada musim kemarau. Konservasi juga diperkuat dengan penanaman berbagai jenis pohon yang memiliki fungsi ekologis sekaligus ekonomi.
Di bidang pertanian, masyarakat mulai menerapkan teknologi pertanian konservasi dan pertanian cerdas iklim. Teknik olah lubang, olah jalur, terasering, penggunaan pupuk organik, serta diversifikasi tanaman menjadi pilihan untuk menghadapi keterbatasan air. Tanaman seperti sorgum, umbi-umbian lokal, sayuran, dan tanaman lainnya dikembangkan sebagai sumber pangan alternatif yang lebih sesuai dengan kondisi lahan kering. Di Desa Fafinesu C, misalnya, pengalaman masyarakat menunjukkan bahwa teknik konservasi tanah dan pemilihan tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering dapat membantu mempertahankan produktivitas sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga. Hasil pertanian bahkan dikembangkan menjadi produk bernilai tambah seperti produk olahan berupa kripik ubi, kripik pisang dan jagung marning.
Aksi dini juga memberikan dampak pada ketahanan ekonomi masyarakat. Di Desa Oeolo, kelompok perempuan melalui Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP) Binili Ahalilat membangun kebiasaan menabung mulai dari Rp10.000 per bulan. Simpanan tersebut berkembang menjadi modal bersama yang dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan ekonomi keluarga. Hingga mencapai sekitar Rp165 juta, akumulasi simpanan tersebut menunjukkan bahwa ketangguhan menghadapi kekeringan tidak hanya membutuhkan air dan pangan, tetapi juga kemampuan masyarakat membangun cadangan ekonomi.
Keberhasilan aksi dini sangat ditentukan oleh adanya dukungan pembiayaan. Pemerintah desa mulai mengintegrasikan kebutuhan kesiapsiagaan dan penanggulangan kekeringan ke dalam perencanaan dan anggaran desa. Dukungan mitra seperti Yayasan Mitra Tani Mandiri dan Caritas Germany menjadi stimulan, sementara pemerintah desa dan masyarakat mengambil peran dalam menjaga keberlanjutan kegiatan. Pengalaman pendekatan aksi dini terhadap ancaman bencana kekeringan pada tahun 2024/2025 mampu menekan biaya respons bencana hingga 73%dibandingkan pendekatan reaktif setelah bencana terjadi.
Pengalaman enam desa di TTU menunjukkan bahwa ketangguhan masyarakat tidak dibangun melalui satu kegiatan saja. Ketangguhan tumbuh dari perpaduan antara informasi yang tepat waktu, tindakan yang dilakukan sebelum krisis, konservasi lingkungan, ketahanan pangan, penguatan ekonomi, kelembagaan masyarakat, dan dukungan pembiayaan. Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB), pemerintah desa, kelompok tani, kelompok perempuan, tokoh adat, serta masyarakat menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Pelajaran penting dari pengalaman di TTU adalah bahwa masyarakat bukan hanya penerima bantuan, tetapi merupakan aktor utama dalam membangun ketangguhan. Ketika masyarakat memperoleh informasi, pengetahuan, ruang untuk mengambil keputusan, serta dukungan sumber daya yang memadai, mereka mampu mengembangkan solusi yang sesuai dengan kondisi lokal.
Kekeringan mungkin akan terus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat TTU. Namun, pengalaman dari enam desa menunjukkan bahwa kekeringan tidak harus selalu berujung pada krisis. Dengan memperkuat sistem peringatan dini, melakukan aksi sebelum dampak menjadi parah, menjaga sumber daya alam, memperkuat pangan dan ekonomi keluarga, serta memastikan adanya dukungan anggaran, masyarakat dapat mengubah kerentanan menjadi kekuatan.
Dari sinilah asa tumbuh: bukan dengan menunggu hujan datang, tetapi dengan menyiapkan masyarakat untuk tetap bertahan, beradaptasi, dan berkembang ketika musim kering datang.

