Kisah Perubahan Dari Desa Raja Meraih Nominasi ProKlim Utama

Oleh: Amatus Wona Hewe (YMTM F, Nagekeo, NTT)

Di Desa Raja, Kecamatan Boawae, dampak perubahan iklim mengubah lanskap kehidupan masyarakat: musim tanam tidak menentu, kekeringan berkepanjangan, dan hasil panen menurun drastis. Dari situasi penuh tantangan itu, lahirlah ProKlim Natalea pada Desember 2022, dipimpin Bapak Emanuel Lado, yang dengan semangat dan teladan langsung menggerakkan warga untuk beradaptasi dan melakukan mitigasi perubahan iklim melalui praktik pertanian ramah lingkungan, konservasi mata air, pengelolaan sampah, dan pemanfaatan energi hemat. Berkat kerja kolektif masyarakat, dukungan pemerintah desa, dan fasilitasi Yayasan Mitra Tani Mandiri Flores (YMTM F) dengan dukungan World Neighbors (WN) yang bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI (KLHK-RI), Natalea berhasil menumbuhkan kesadaran dan aksi nyata sehingga dari desa yang pasrah, kini tumbuh desa tangguh yang menjadi inspirasi bagi wilayah lain, ditandai dengan nominasi ProKlim Utama pada 2025.

Image 13

 

Eman Lado Ketua ProKlim Natalea berada diantara sayuran di dalam pot

Desa Raja adalah sebuah desa yang berada di Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo yang memiliki lahan kritis yang sangat luas, sehingga merupakan salah satu desa yang bergulat dengan dampak perubahan iklim. Musim tanam tidak menentu, kekeringan datang lebih lama, dan hasil panen tidak lagi menjanjikan seperti dulu. Alam berubah, dan masyarakat seolah tak punya pilihan selain pasrah. Sungai yang dulu mengalir deras mulai menyusut. Di banyak rumah, sampah dibakar sembarangan. Pohon-pohon ditebang tanpa ganti. Kebun hanya ditanami sekali setahun, itu pun sering gagal panen. Anak-anak terbiasa melihat tanah kering, dan sebagian orang tua mulai berkata, “Zaman sudah berubah, kita tidak bisa buat apa-apa lagi.” Lingkungan menjadi semakin rentan, dan masyarakat mulai kehilangan harapan. Di tengah ketidakpastian itu, muncul gagasan untuk bangkit: membentuk sebuah kelompok yang peduli terhadap perubahan iklim dan masa depan desa. Maka lahirlah ProKlim Natalea — sebuah langkah kecil yang membawa perubahan besar.Kelompok ProKlim Natalea terbentuk pada tanggal 19 Desember 2022, yang diketuai oleh Bapak Emanuel Lado,  seorang tokoh lokal yang dikenal pekerja keras, rendah hati, dan penuh semangat dalam mendorong perubahan.

Dengan difasilitasi oleh YMTM F yang didukung oleh WN yang bekerjasama dengan KLHK-RI, Bapak Eman (begitu ia biasa disapa) mulai menggerakkan warga agar menyadari bahwa mereka dapat menjadi bagian dari solusi. Ia tidak hanya mengajak dengan kata-kata, tetapi juga memberi teladan melalui tindakan nyata. Bapak yang mempunyai empat orang anak mulai menggerakan  anggota proklim di wilayahnya, mengetuk satu demi satu pintu rumah warga, mengajak dengan sabar, menjelaskan pentingnya adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim. Ia memimpin kegiatan kerja kelompok untuk membuat tungku hemat energi, membuat bokashi dan pestisida organik, membuat lubang sampah dan memilah sampah organik dan anorganik serta  mendorong ibu-ibu untuk mengembangkan sayuran organik didalam polybag /karung dan kemasan bekas di pekarangan rumah dan pada lahan yang dekat dengan sumber air/bantaran sungai. Apa yang disampaikan Eman ini tidak hanya omong saja tetapi bersama istrinya juga telah membuat semuanya itu di rumahnya.

Image 14

 

Eman Lado, Ketua Proklim Natalea membuat lubang biopori di pekarangan rumahnya

Langkah-langkah kecil yang dipimpin dengan hati itu, lama-lama menjadi gerakan besar. Lubang-lubang biopori mulai meresapkan air serta menyuburkan tanah. Sampah dari limbah rumah tangga mulai dipilah dan diolah. Air hujan yang dulu mengalir percuma, kini dipanen serta tertampung dan dimanfaatkan. Rencana Aksi proklim desa pun lahir berkat diskusi dan kerja kolektif warga yang dipimpin oleh suami dari mama Bernadethe Dhema ini.

Perempuan, pemuda, hingga anak-anak sekolah, dan semua warga dilibatkan dalam gerakan ini. Bersama YMTM F, ProKlim Natalea melakukan penghijauan di sekitar sumber mata air, dan membangun kesadaran bahwa hidup selaras dengan alam adalah pilihan terbaik untuk masa depan. Kebersamaan dalam aksi nyata ini membuat masyarakat bangga. Dari kampung yang dulu pasrah, Natalea berubah menjadi desa yang tangguh dan cinta alam.

Puncaknya, pada bulan Mei tahun 2025, ProKlim Natalea dinominasikan sebagai ProKlim Utama oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH-RI) melalui surat keputusan dari DLHK Provinsi NTT nomor 660.128/DLHK.2.2.2/2025. Namun bagi warga dan Bapak Emanuel, keberhasilan itu bukanlah akhir, melainkan awal dari komitmen yang lebih besar.  “Kami belajar dari krisis, dan membangun dari kesadaran. Dari tanah yang dulu retak, kini tumbuh harapan baru dan itu semua dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama.” kata bapak Emanuel Lado, Ketua ProKlim Natalea.

Image 15

 

Peran pemerintah Desa Raja, pihak swasta (Yayasan Bambu Lestari)  dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Nagekeo sangat mendukung kegiatan adaptasi dan mitigasi serta penguatan kelembagaan ProKlim Natalea. Hal ini dibuktikan dengan adanya bantuan anakan gayam dan bambu serta kayu lokal untuk konservasi sumber mata air dan anakan pohon merbau dan durian untuk kebun agroforestry. Sedangkan  pemerintahan Desa Raja memberikan dukungan dengan menganggarkan dana desa pada tahun 2023 untuk melakukan penyuluhan tentang kesehatan lingkungan, pemberian makan bergizi bagi anak-anak dan lansia sebesar Rp 11.921.545,-. Selain itu, kehadiran kepala desa dan stafnya dalam setiap kegiatan kelompok merupakan bukti nyata dalam mendukung aktivitas ProKlim sehingga mereka lebih termotivasi dalam pelaksanaan kegiatan yang dilakukan setiap bulan.

Anggota Proklim Natalea sedang membuat pupuk bokasih

Kini, ProKlim Natalea bukan sekadar kelompok, melainkan simbol perubahan, kebangkitan, dan harapan bahwa dari desa kecil di Nagekeo, muncul contoh besar tentang bagaimana masyarakat bisa bertahan dan berkembang di tengah ancaman dan dampak  perubahan iklim.

Kisah Natalea adalah bukti bahwa perubahan dimulai dari keberanian untuk mengambil langkah pertama serta inisiatif untuk melakukan aksi dan kegiatan ProKlim . Dari desa kecil, muncul inspirasi besar: bahwa desa bisa menjadi ujung tombak dalam menghadapi krisis iklim jika masyarakat diberdayakan dan difasilitasi dengan tepat.

Selain ProKlim Natalea Desa Raja, ada 13 ProKlim dampingan YMTM F yang tersebar di 13 desa yaitu Tedakisa, Ngegedhawe, Pagomogo, Natatoto, Kotakeo I, Raja Selatan, Raja Timur, Wolowea Timur, Natanage Timur, Rowa, dan Dhereisa memiliki keragaman kondisi alam dan tantangan sosial yang dihadapi masyarakat. Di wilayah perbukitan seperti Tedakisa, Pagomogo, Kotakeo I dan Ngegedhawe, tantangan utama adalah keterbatasan akses air bersih dan risiko longsor yang tinggi di musim hujan. Selain itu infrastruktur dasar yang minim, seperti jalan rusak dan terbatasnya akses transportasi yang menghambat distribusi hasil pertanian. Sementara itu, desa-desa seperti Dhereisa, Raja Timur, Natatoto menghadapi masalah berkurangnya tutupan lahan dan ketergantungan pada pertanian lahan kering menjadi risiko tinggi ketika terjadi gagal panen akibat musim kemarau yang semakin panjang.

Image 16

 

Selain masalah khusus di atas, ada juga masalah umum yang dirasakan oleh pendamping lapangan  seperti rendahnya kesadaran masyarakat terhadap isu perubahan iklim dan masih kuatnya praktik tradisional yang belum sepenuhnya selaras dengan prinsip keberlanjutan. Di beberapa wilayah seperti Rowa dan Natanage Timur, partisipasi perempuan dan pemuda dalam kegiatan lingkungan masih perlu ditingkatkan karena peran mereka seringkali belum dianggap strategis. Meski demikian, pendekatan partisipatif dan penguatan kelembagaan lokal yang dijalankan oleh YMTM F telah menjadi jalan masuk untuk mengatasi tantangan tersebut secara bertahap dan kontekstual.

Anggota Proklim Okitebo Desa Ngegedhawe sedang melakukan pemilahan sampah

Melalui pendampingan YMTM F dengan dukungan WN yang bekerjasama dengan KLHK-RI, masyarakat mulai diperkuat kapasitasnya untuk memahami pentingnya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Misalnya, kelompok ProKlim mulai mengembangkan kebun pangan lokal dan sistem pertanian konservasi dapat meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga, pemanfaatan sumber air untuk pengembangan sayuran organik, pengelolaan sampah berbasis komunitas menjadi solusi yang mendorong partisipasi aktif masyarakat, khususnya perempuan dan pemuda. Setiap lokasi ProKlim dampingan YMTM F dan WN  memiliki karakteristik dan kekuatan tersendiri yang menjadi kunci keberhasilan dalam mendukung pencapaian ProKlim Utama. Di Desa Tedakisa, Pagomogo dan Ngegedhawe kekuatan terletak pada semangat gotong royong warga dan tingkat keswadayaan cukup tinggi dalam pelaksanaan berbagai kegiatan ProKlim. Di Desa Natatoto inovasi terletak pada pemanfaatan lahan untuk pengembangan sayuran organik. Ditambah lagi dukungan Pemdes dalam pelaksanaan program sangat tinggi dibuktikan dengan pengalokasian dana untuk pembuatan pagar pengaman kebun. Sementara di Kotakeo I dan Nagesapadhi melakukan konservasi sumber mata air. Raja Selatan  dan Dhereisa lebih menonjol pada keaktifan ibu-ibu dalam mengembangankan usaha produktif seperti sayuran dan tenun ikat sebagai pendukung perolehan pendapatan keluarga. Untuk Desa Rowa dan Natanage Timur lebih fokus pada pengembangan pangan lokal untuk pemenuhan kebutuhan keluarga. Keberagaman pendekatan inilah yang menjadi kekayaan program, karena masing-masing ProKlim tidak hanya menyesuaikan strategi dengan kondisi alam, tetapi juga dengan potensi sosial budaya yang dimiliki, menjadikannya model pembelajaran yang kontekstual dan inspiratif untuk wilayah lain.

Image 17

 

Anggota Proklim Olanage kelurahan Natanage Timur sedang membuat tungku hemat kayu bakar

Dari 13 desa Proklim dampingan YMTM bersama WN yang bekerjasama dengan KLHK-RI, hanya satu Kelompok ProKlim di Desa Nagesapadhi yang belum menjadi nomasi Proklim Utama. Masih ada kegiatan yang belum dilaksanakan seperti kerjasama dengan pemerintah kabupaten, propinsi dan nasional serta belum semua kegiatan didokumentasikan dengan baik sebagai bukti administrasi dalam penilaian ProKlim. Kedepannya akan selalu diperhatikan kegiatan-kegiatan yang mendukung tercapainya ProKlim Utama. Dengan kata lain, YMTM dan WN menyumbang 12 Kelompok ProKlim nominasi utama di Kabupaten  Nagekeo pada tahun 2025 ini dan tidak ada satu pun Kelompok ProKlim nominasi utama binaan pemerintah secara khusus dan pihak lainnya di Nagekeo. Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTT melalui surat No: 660/1280/DLHK.2.2.2/2025 tertanggal 26 Juni 2025 memberitahukan bahwa Nagekeo menyumbang lebih dari 70% Kelompok ProKlim nominasi utama pada tahun ini. Ini keberhasilan yang luar biasa – tertinggi dari pendampingan mitra kerja WN di Nagekeo sejak ada program ProKlim dari pemerintah.

Image 18

 

Penilaian ProKlim Bersama staf DLH Kab. Nagekeo di Kantor YMTM

Proses pendampingan yang intensif membuktikan bahwa meskipun setiap wilayah memiliki tantangan yang khas, kekuatan yang dimiliki berbeda namun berkat kolaborasi yang kuat antara masyarakat lokal, pemerintahan desa dan YMTM F dan WN mampu menghasilkan perubahan nyata menuju kampung yang lebih tangguh terhadap iklim.

© 2026 Yayasan Mitra Tani Mandiri. Hak cipta dilindungi.