“Memiliki fisik yang terbelakang bukan berarti yang tertinggal” ini merupakan ungkapan yang cocok untuk Florentina Owa anak ke dua dari bapak Ferdinandus Lado dan Mama Dominika Lengu.
Florentina Owa, seorang anak difabel tuna rungu dari Desa Dhereisa kecamatan Boawae Kabupaten Nagekeo, telah membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah halangan untuk mencapai kesuksesan. Dengan semangat dan ketekunan, Renti sapaan akrabnya mengembangkan usaha tenun ikat yang tidak hanya memberikan pendapatan bagi keluarganya tetapi juga menginspirasi masyarakat lain terutama yang difabel.
Desa Dhereisa memiliki tradisi tenun ikat secara turun temurun, namun perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup menyebabkan penurunan minat generasi muda terhadap kerajinan ini. Renti mulai belajar tenun ikat dari ibunya, Mama Dominika Lengu sejak umur 12 tahun. Dengan komunikasi non-verbal yang kuat, ia mampu memahami dan mempraktikkan keterampilan ini. Renti mulai menggeluti usaha tenun ikat tersebut, berbekal dukungan modal awal sebesar Rp.150.000 untuk membeli benang dan kebutuhan tenun lainnya dari keluarganya yang tergabung dalam kelompok Ngusa Tei dampingan staf YMTM ( Ibu Ermelinda Pae).
Berbekal kemahirannya dalam usaha tenun ikat tersebut, Renti sudah memproduksi tenun ikat yang berkualitas tinggi dengan desain yang menggabungkan motif tradisional dan modern. Produk tenunnya dihargai karena kualitasnya dan keindahan motifnya. Usaha tenun ikat ini dilakukan secara rutin setiap hari sehingga memberikan pendapatan yang cukup besar, karena dalam seminggu mampu menenun satu lembar kain dengan harga kain tenun di pasar berkisar Rp.450.000/per kain bahkan naik sampai Rp.500.000/kain untuk musim panas (acara pesta adat di Nagekeo). Maka dalam sebulan bisa menghasilkan empat lembar kain sehingga total pendapatannya 4 x 450.000 =Rp.1.800.000 dikurangi biaya per lembar kain Rp.150.000 x 4 = Rp.600.000 sehingga pendapatan bersih dalam sebulan mencapai Rp. 1.200.000 atau Rp.14.400.000 per tahun.

Keterbatasan fisik tidak menutup niat wanita kelahiran 31 Oktober 1990 untuk bisa punya penghasilan sendiri. Dari usaha tenun ikat inilah selain untuk memenuhi kebutuhannya sendiri ia juga dapat membantu orang tuanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan menyekolahkan adik-adiknya.
Kesulitan dalam berkomunikasi menjadi tantangan utama Renti, terutama dalam memasarkan hasil tenunnya ke pasar yang lebih luas. Keterbatasan sumber daya untuk membeli bahan baku dan peralatan tenun juga menjadi kendala yang signifikan. Meski memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi, Renti menunjukkan minat yang besar dalam kerajinan tenun ikat.
Yayasan Mitra Tani Mandiri — mewujudkan kemandirian, kesejahteraan dan keadilan masyarakat pedesaan NTT secara berkelanjutan.
IKUTI KAMI :
| Vis. Today | 4 |
| Visits | 1.582 |
| Pag. Today | 9 |
© 2026 Yayasan Mitra Tani Mandiri. Hak cipta dilindungi.