Tanah Subur, Pangan Terjaga

Kelurahan Natanage Timur merupakan salah satu desa di kecamatan Boawae kabupaten Nagekeo yang  kondisi tanahnya sangat  kritis dengan lapisan top soil yang tipis serta rawan kekeringan.  Sebagian besar warga desanya adalah petani yang dengan tekun dan sabar mengolah tanah kritis atau kebunnya secara turun temurun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dari tahun ke tahun hasil panen tanaman pangan seperti padi lokal, jagung serta kacang-kacangan  cenderung menurun dan bahkan pada beberapa lokasi sering mengalami gagal panen.  Untuk meningkatkan pendapatannya

“ Kami harus mencari jalan keluar untuk mengatasi kesulitan yang kami alami . Karena hasil yang diperoleh dari kebun tidak cukup , sebab kesuburan tanah semakin menurun “ ungkap bapak Feri Lako

Ferdinandus Lako Tiu (54 tahun) adalah salah satu petani di Kelurahan Natanage Timur. Bapak Fery (biasa disapa) mengatakan sekitar bulan oktober 2023 Yayasan Mitra Tani Mandiri dengan dukungan World Neighbors melalui program INCIDENT melakukan sosialisi Predikisi Pola curah hujan, menjelaskan bahwa curah hujan pada musim tanam tahun 2022/2023 sangat terbatas sehingga bisa terjadi bencana kekeringan maka harus melakukan berbagai inovasi baru untuk mengantisipasi terjadinya gagal tanam dan gagal panen.

Sambil mengerutkan dahinya suami dari mama Maksima Paru  ini mengatakan Salah satu terobosan yang dilakukan bersama kelompok tani Zapa Dheko di kampung Olanage adalah penerapan Pertanian Konservasi pada kebunnya  seluas 10 are . Sambil mengangkat gelas dan meneguk kopi hangat bapak yang mempunyai 5 orang anak tersebut mengatakan, “Pada awalnya saya ragu, apakah betul apa yang dikatakan oleh Pak Vitalis (PL YMTM) , Karena sudah  bertahun-tahun mengolah kebun/lahan dan ditanami dengan jagung serta kacang-kacangan, hasilnya tidak memuaskan bahkan tidak berproduksi dan tidak mencukupi kebutuhan pangan dalam setahun.” Sambil mengenang masa lalu dilahan yang sama, menurut beliau biasanya  pada 5 tahun pertama hasilnya cukup baik, tetapi semakin lama semakin menurun, kalau dilahan kering kami tidak biasa menggunakan pupuk kimia dan juga pupuk organic (tanpa perlakuan). Namun setelah dilakukan pengembangan pertanian konservasi yang diawali dengan persiapan lahan , penggalian lubang , pengisian pupuk bokashi , penebaran mulsa serta dilakukan  perawatan yang baik, melakukan pengukuran tinggi tanaman jagung diternyata  pertumbuhan tanaman jagung sangat luarbiasa subur walaupun pernah tidak hujan hampir 1 bulan. Hasil panennya lebih banyak dibandingkan dengan tanaman jagung yang dikembangkan secara konvensional .

“Pada tanggal 3 Maret 2023 kami melakukan panen tanaman jagung di kebun PK seluas 5 are (1 are Olah Lubang dan 4 are Olah Jalur) tersebut dan dari hasil ubinan yang dilakukan oleh PPL dan staf YMTM ternyata produksi  olah lubang hasilnya mencapai 7,5 kg kering panen (ubinan)sehingga rerata produktivitas pipil kering simpan mencapai 7,8 kg/ha dan olah jalur 5,1 kg kering panen (ubinan) sehingga rerata produktivitas pipil kering simpan mencapai 5,3 kg/ha  sedangkan tanam biasa 2,3 kg kering panen (ubinan) sehingga rerata produktivitas pipil kering simpan mencapai 2,39 kg/ha. Seandainya saya kembangkan cukup 15 are saja maka kebutuhan makan dalam setahun pasti mencukupi.” kata bapak Feri sambil tersenyum puas dengan hasil yang diperolehnya.

Ff

 

Lebih lanjut bapak pekerja keras ini mengatakan, “Saya juga bangga karena saat panen dikebun saya hadir juga bapak Bupati Nagekeo, Kepala BPP Natanage serta staf dan Staf YMTM. Kami tidak pernah bayangkan bahwa kami orang kampUng ini bisa bertemu dengan bapak bupati dan bahkan beliau sendiri yang melakukan panen di kebun saya. Disela-sela wawancara, mama Maxima, istri dari bapak Fery mengatakan dikampung Olanage ini sekitar 15 orang yang sudah menerapkan kebun PK  dilahan masing-masing dengan luas lahan 3-5 are per keluarga. Sehingga Bapak Fery pun yakin dan percaya dengan pengembangan pertanian konservasi karena sudah terbukti dapat mengembalikan dan memulihkan kesuburan tanah serta meningkatkan hasil panen tanaman pangan.

YMTM memberikan kerja nyata dilapangan, mereka bekerja tuntas karena pendampingan yang intens. Kita pemerintah perlu mengapresiasi kerja-kerja mereka dan kita juga terutama PPL harus saling belajar dan kerja kolaborasi dilapangan sehingga saling mengisi kekurangan,” kata dr. Don Bosco Do Bupati Nagekeo, yang turut hadir saat itu.

Bapak Fery yang sekaligus sebagai ketua kampung iklim Olanage kelurahan Natanage Timur ini mengakhiri pembicaraannya dengan mengatakan kami bertekad untuk menerapkan pertanian konservasi dalam pengembangan tanaman pangan khususnya jagung dan kacang-kacangan pada setiap musim tanam selanjutnya dan juga saya akan memotivasi seluruh anggota dalam kampong iklim olanage ini untuk mengembangkan pertanian konservasi. Akhirnya tak lupa menyampaikan terimakasih banyak kepada YMTM-WN  yang telah mendampingi petani di Kelurahan ini dan kami masih mengharapakan dampingan pada tahun yang akan datang.

© 2026 Yayasan Mitra Tani Mandiri. Hak cipta dilindungi.