“Lubang Permanen”, Teknologi Pertanian Konservasi yang Mendongkrak Produksi Jagung

Saya Philipus Suri, 65 tahun, anggota Kelompok Tani Krakat, Desa Toheleten, Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu. Saya bergabung dengan kelompok tani ini sejak 2022 dan dipercaya sebagai Ketua Hutuntani. Sebelumnya, kami menanam jagung secara tradisional dengan cara tugal biasa.

Pada September 2023, kami mengikuti pembelajaran pengolahan tanah yang difasilitasi YMTM. Saya tertarik dengan teknologi lubang permanen: lubang disiapkan lalu diberi 3 kg pupuk kandang, dan jagung ditanam saat hujan turun. Saya membuat 1.500 lubang permanen berukuran 30x30x30 cm dengan jarak tanam 40×80 cm, dan mulai menanam jagung pertengahan November 2023.

Pertumbuhan jagungnya jauh lebih subur dibanding cara tradisional. Dari 1.500 lubang, saya memanen 3 drum (470 kg) jagung pipilan — jauh lebih banyak dari tahun sebelumnya yang hanya 1 drum di luas lahan yang sama. Teknik ini juga lebih ramah lingkungan karena tidak memerlukan herbisida untuk menyemprot rumput sebelum tanam. Ke depan, saya akan terus menerapkan teknologi ini dan mengajak petani lain untuk melakukan hal yang sama.

© 2026 Yayasan Mitra Tani Mandiri. Hak cipta dilindungi.